Title : wake up hika
Author : higayasei
Rating : Other
Type : Multichapter
Genre : Romance
Chara :Yaotome Hikaru X Watanabe Mayu
Disclaimer : saya punya semuanya . termasuk hikaru . #di geplak fans-fansnya.
A/N : ini pertama kalinya saya bikin ff jadi maaf kalo gak sempurna.
Gadis yang sungguh cantik. Berbalutkan mantel putih. Yang sungguh, dia terlihat cantik. Sangat cantik. Rambut hitam panjangnya terkepang. Ya terkepang dua. Kalian tau, aku suka perempuan yang rambutnya terkepang rapi. Sungguh dia terlihat sempurna. Terlihat begitu menawan. Sungguh, jika kalian tak menenalnya kalian akan mengira dia adalah gadis yang tegar. Tapi, dia tidak setegar yang kalian kira. Kalian tau kenapa aku berbicara seperti itu? Karena aku mengerti dia. Karena aku mengenalnya. Ya, mengenalnya. Seperti aku mengenal diriku sendiri.
***
Satu. . .
Dua. . .
Tiga. . .
Kelopak sakura mulai berguguran satu demi satu. Terlihat begitu indah. Tapi, sungguh jika kau bertanya pada gadis yang tengah duduk termenung itu. Kau akan tau, bahwa tak semua orang menyukai sakura yang sedang gugur seperti sekarang ini. Kurasa dia sedangberpikir tentang hal itu. Aku tau apa yang membuatnya bersedih. Aku tau. Sungguh, aku tau. Tapi, aku tak ingin bercerita sekarang. Sebaiknya dia saja yang menceritakan.
***
“Mayuyu,” kata bocah itu begitu gugup.
“Ya?” kata gadis kecil yang dipanggil Mayuyu tadi.
“Emt , aku. . . aku cuma mau bilang. . . bolehkah. . ,” kata bocah laki-laki itu begitu gugup. Dia hanya mampu memperlihatkan gigi gingsulnya sambil menunduk.
“Ne, kau mau bilang apa, Hikachan?” kata gadis tadi sambil tetap memainkan bunga di tangannya.
“Err. . aku suka Mayuyu. Mayuyu, boleh aku jadi pacarmu selamanya?” tanya bocah laki-laki bernama Hikaru tadi. Hikaru tidak berani berkata-kata lagi. Dia hanya menundukkan badan.
Pertanyaan itu membuat Mayuyu terdiam sesaat.
“Eh, Mayuyu tidak mau ya? Maaf kalau-“ kata-kata Hikaru tadi terpotong. Terpotong oleh suara yang menjawab pertanyaannya.
“Boleh. Boleh sekali malah,” kata gadis kecil bernama Mayuyu itu.
“Eh?”
“Mayu sayang Hikachan,” kata Mayuyu
“HE? MAJI?!?!” teriak Hikaru heboh. “YATTA !!!!” Hikaru berteriak-teriak bak mendapat durian jatuh. Tapi, dia langsung terhenti ketika Mayuyu mengucapkan sesuatu.
“Apa Mayuyu? Kau tadi berkata sesuatu?” tanya Hikaru
“Aah, Hikachan. Kebiasaan, deh. Aku akan mengulanginya. Tapi, hanya sekali. Dengar baik-baik,”kata Mayuyu kesal.
Hikaru mengangguk-anggukkan kepala tanda setuju.
“Hikachan, tadi Hikachan bilang Hikachan ingin menjadi pacar Mayuyu selamanya, kan?”
“Un, lalu?”
“Untuk itu Hikachan harus janji ya?”
“Ya”
“Hikachan tidak boleh menyukai orang lain selain Mayuyu. Bagaimana?”
“Hm, baiklah,”
Setelah itu mereka berlari-larian lagi. Bermain di taman penuh bunga itu.
***
“Sungguh? Itu bohong, kan? Tak mungkin anak umur delapan tahun mengatakan itu,” kata seorang gadis yang berumur sekitar awal 20-an.
“Sungguh, aku tidak berbohong. Dua belas tahun yang lalu. Dia memang mengatakan itu. Aku tak kan mungkin lupa. Itu terjadi sehari sebelum kepindahanku ke Tokyo,” kata gadis berkepang tersebut.
“Sungguh, hal yang mustahil dikatakan anak sekecil itu. Tapi, jika memang itu benar. Kurasa itu hanya candaan,” kata gadis yang berpotongan rambut bob itu.
“Atsuko-chan. Baiklah jika kau tak percaya. Tapi, itu sungguh-sungguh terjadi,”kata gadis berkepang itu sambil melepas kacamatanya.
Atsuko-chan, dia benar. Dia tak berbohong. Sungguh, aku pun masih ingat, gumamku. Yah, tak baik memang menguping pembicaraan orang. Aku pun sebenarnya sangat mematuhi itu. Tapi, tidak untuk kali ini. Aku hanya ingin mendengarnya mengatakannya. Mengatakan tentang masa kecil kami.
“Mayuyu, baiklah. Aku percaya padamu. Tapi, sungguh tak masuk akal,” kata gadis bernama Atsuko tadi.
“Ooh, terserah kau sajalah. Yang penting itu semua benar terjadi,” kata Mayuyu.
Ya, semua itu memang benar terjadi.
***
Pagi sekali. Sungguh, masih pagi sekali. Gadis itu masih tidur. Terlelap di ranjangnya.
“Mayu, bangun sayang. Kita harus pergi sekarang,” kata seseorang bersuara lembut. Mencoba membangunkan Mayuyu.
“Hoaaheem,” yang di bangunkan hanya merubah posisi tidur saja.
“Mayuyu ayo bangun,”kata suara itu lagi.
“Hooaaheem. Okaasan ini masih pagi. Kenapa Mayu harus bangun?” tanya Mayuyu. Matanya masih terpejam.
“Mayu, waktu kita tidak banyak sayang,” ujar wanita yang di panggil okaasan itu lembut. “Dua jam lagi orang-orang itu akan datang,” sungguh, kini suara wanita itu bergetar.
“Mereka? Mereka siapa, Okasaan?” tanya Mayu sambil mengumpulkan kesadarannya.
“Nanti, nanti okaasan jelaskan. Sekarang ambil barang yang kau suka,”
Mayuyu bangkit, masih setengah sadar. Berjalan menuju meja belajarnya. Mengambil sebuah bingkai foto dan sebuah mahkota. Baru saja dia akan mengambil sebuah benda lagi, tangan kanannya telah ditarik.
“Mayu, cepat. Tak ada waktu untuk berlama-lama,” ujar okaasan sambil menarik tangannya.
Mayuyu kaget. Tangannya refleks menarik benda tersebut. Benda yang menjadi saksi bisu cintanya dan Hikaru. Sebuah kalung. Kalung berbandul bunga.
***
“Okaasan, kita mau kemana?” tanya Mayuyu yang masih menggengam erat ketiga benda tadi.
“Kita akan ke Tokyo,” pertanyaannya terjawab. Tapi, kali ini bukan ibunya yang menjawab.
“Kenapa? Kenapa kita harus ke Tokyo, papa? Mayu ingin tetap disini. Bermain bersama Hika,” kata Mayuyu.
Ayah dan ibunya pun hany bisa berpandangan sambil menghela nafas panjang. Tapi, mereka harus terus bergerak.
“Mayu, ayo ikut okaasan,” ajak ibu.
Ke rumah Hika, pikir Mayu. Saat itu Mayu pikir mereka akan mengajak keluarga Yaotome juga. Tapi, ternyata tidak. Ibunya hanya menyelipkan sebuah surat. Belum sempat Mayu bertanya ayahnya sudah memanggil.
“Cepat,” desis sang ayah.
Pagi itu. Ketika semua orang di preferktur Miyagi masih terlelap. Keluarga Watanabe. sudah pergi menuju Tokyo.
***
“Jadi, Mayuyu dari kecil sudah sering pindah rumah, ya?” tanya seorang lagi.
“Ya, begitulah. Aku tidak suka hidup seperti itu. Ketika aku mulai akrab, mulai dekat dengan seseorang. Ayah selalu berkata, ‘waktunya pergi’. Begitu,” jawab gadis berkepang dua yang kini terlihat lebih tua itu.
Mayuyu, seberat itukah bebanmu? Bolehkah aku membantu? Ucapku lirih. Lagi-lagi aku menguping pembicaraan mereka. Sungguh, ini tabiat buruk yang tak boleh ditiru. Aku ada disini. Aku melakukan semua ini karena aku cinta dia. Karena aku tak ingin dia bersedih lagi.
***
“Ashita, kita bertemu lagi ya?”
Masih terbayang di benak Mayuyu. Kepalanya tertunduk. Tak terasa air matanya jatuh. Satu persatu. Merambati pipi merahnya. Lalu, di letakkannya boneka kelinci kecil di bawah pohon. Tempat dimana kenangannya berada. Mayuyu tersenyum.
“Kau jangan nakal ya,” ujar Mayuyu sembari mengelus-elus boneka di depannya. Boneka itu tak bergeming. Mayuyu tersenyum lagi.
“Jaga Hika baik-baik ya,” ujar mayuyu sambil beranjak.
“Kau janji bukan?” tanya Mayuyu lagi. Tetap tak ada jawaban.
“MAYU!! CEPAT WAKTU KITA TAK BANYAK LAGI !!”
“Haik,” kata Mayuyu sambil berlari menuju mobil.
“Sayonara, Hika. Akan ku pegang janjimu. Semoga kita dapat bertemu lagi,” kata Mayuyu sambil mengusap matanya.
***
“Oh, aku terharu. Apakah Hikaru-kun masih menyimpan boneka itu?” tanya seorang lagi. Takamina. Takahashi Minami.
“Entahlah. Aku juga tak tau. Aku saja tak tau dia mengambilnya atau tidak,” kata Mayuyu. Matanya menatap menerawang.
“Aku yakin dia mengambilnya,” hibur A-chan.
Ya, aku memang mengambillnya. Tenang saja, boneka itu masih kusimpan dikamarku, kataku. Aku masih menyimpannya untukmu. Karena aku tau itu boneka kesayanganmu.
Mungkin sekarang waktunya untuk kalian tau. Tentang masa kecilku. Tentang hari setelah Mayuyu pergi.
~ tsuzuku ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar