Title : wake up , hika (part3)
Author : higayasei
Rating : Other
Type : Multichapter
Genre : Romance
Chara :Yaotome Hikaru X Watanabe Mayu
Disclaimer : saya punya semuanya . termasuk hikaru . #di geplak fans-fansnya.
A/N : ini pertama kalinya saya bikin ff , jadi maaf kalo gak sempurna.
Dua anak kecil itu berlarian. Mengejar seekor kupu-kupu yang indah. Mereka terus berlari mencoba menangkap sang kupu-kupu. Tapi, mereka tak bisa.
“Sudah, aah Mayuyu. Aku sudah lelah,” ujar Hikaru.
“Um? Aah, Hika ayolah. Sebentar lagi pasti tertangkap,” bujuk Mayu.
“Tidak, aah. Kau saja yang kejar. Ku tunggu di rumah pohon ya,” kata Hikaru sambil berjalan ke rumah pohon.
“Aaah, Hika. Baiklah,” kata Mayu sambil mengikuti langkah Hikaru.
Mereka berjalan ke rumah pohon dalam diam. Tak ada yang bersuara. Hanya desau angin dan tarikan nafas Mayu dan Hika.
“Hikachan lapar, tidak?” tanya Mayu setelah mereka sampai di rumah pohon.
“Iya,” jawab Hikaru sambil menunduk.
“Kenapa kau tidak makan bekalmu?” tanya Mayu.
“Aku tidak membawa bekal makan. Okaasan sedang pergi. Di rumah hanya ada Oniichan,” jawab Hika.
“ooh, kau maau bekalku?” tawar Mayu.
“Tentu saja,” kata Hikaru semangat sambil mengambil kotak bekal yang ada di tangan Mayu.
Mayu hanya memperhatikan Hikaru sambil tersenyum. Sembari mengambilkan tissue untuk Hikaru.
“Ini, bersihkan mulutmu,”kata Mayu sambil menyodorkan tissue. “Bagaimana rasanya?” sambungnya setelah melihat Hikaru sudah memberihkan mulutnya.
“Eeeennnaaakk!! Ini ibumu yang membuat?” tanya Hikaru sambil memasukkan bekal ke mulutnya lagi.
“Iya, ini okaasan yang membuatnya. Aku juga bisa membuat yang seperti ini. Tapi, aku lebih suka membuat kue,” jelas Mayu.
“Mayuyu bisa membuat kue?” tanya Hika dengan tatapan mata tidak percaya.
“Sungguh, aku bisa. Walau kuenya belum terlalu enak,”
“Aku boleh mencobanya?”
“Tentu saja. Nanti aku buatkan untuk Hikachan. Yang special,” kata Mayu.
“Janji?”
“Janji,”
***
“Maaf aku baru bisa membuatkanmu sekarang,” kata Mayu sambil meletakkan sepotong kue di meja samping tempat tidur.
“Hika, cepatlah bangun. Cepat makan kue ini. Kau menagih janji ini, bukan?” kata Mayu lagi.
Tapi, yang diajak bicara hanya diam. Tak bergeming.
“MEEOONG!!”
“Aah, Hika. Andai saja kucing ini dapat membuatmu terbangun,”
***
“HUAAA!!! MAYUUU!! SINGKIRKAN!! BAWA KUCING ITU KELUAR!!” teriak Hikaru.
“Eeh? Kucing ini kan lucu,” kata Mayuyu sambil mengelus kepala si kucing.
“MAYUYUUUU !!! CEPAAT !!” teriak Hikaru.
“Aah, Hika kenapa sih? Aku kan masih ingin bermain dengan kucing ini,” kata Mayuyu lagi.
“Kumohon,” kata Hika memelas. Mayuyu tersenyum.
“Kalu begitu kau saja yang pegang. Bawa saja keluar,” kata Mayuyu sembari menyerahkan kucing itu pada Hikaru. Hikaru mengernyitkan dahi.
“Mayuyu,”
“Tunggu sebentar. Aku mau ambil minum dulu,” ucap Mayuyu sembari berlalu.
“Mayuyu. . . Tunggu aku. . .Hatchi !! jangan. . Hatchi!!” ucap Hikaru sembari mengusap hidungnya.
***
“Hika. . . .” ucap Mayuyu terisak.
“Kau masih menyimpannya. Aku tahu kau pasti menyimpannya,” kata Mayuyu sambil mengambil boneka kelinci putih itu.
Mayuyu mengusap kepala boneka itu. Memeluk erat boneka itu. Tetes demi tetes airmata jatuh ke kepala boneka itu.
***
“Mayuyu, bonekanya baru, ya?” tanya Hika sambil menatap Mayuyu yang sedang memeluk boneka kelinci.
“Iya, kemarin Okaasan baru saja membelikannya untukku,” kata Mayuyu sambil terus memeluk boneka itu.
“Mayuyu, sayang boneka itu tidak?”tanya HIka sambil terus berayun-ayun.
“Tentu saja. Seperti Hikachan yang sayang sekali dengan robotnya,” kata Mayuyu.
“Oh, begitu,” kata Hikaru sambil mengangguk hiperaktif.
***
Mayuyu masih duduk ddisitu. Setia menunggu Hikaru. Setia membawakan pria itu kue-kue buatannya.
“Hika, kau tau, tidak? Tadi saat aku kesini. Aku melihat pohon sakura yang indaah sekali,” kata Mayuyu.
“Disana tadi, di bawah pohon ada seorang gadis kecil dan seorang bocah lelaki,”kata Mayu. Matanya mulai memerah. Kata-katanya mulai terputus-putus.
“Bocah laki-laki taadi sedang berlari kesaana kemari. Membuat wajah lucu. Tak berhenti. Walau kurasa bocah laki-laki itu sudah lelah. Sepertinya sedang menghibur gadis kecil tadi,” ucap Mayu.
“Sama sepertimu. Cepatlah bangun. Agar kita bisa tertawa bersama lagi,”
***
“Hiks. . hiks. . .hiks. . .,” gadis kecil itu menangis.
“Mayuyu kenapa?” tanya bocah lelaki gingsul itu. Khawatir.
“Jepit rambutku hilang,” jawab Mayuyu sambil tetap sesengukan.
“Jepit rambut? Bukannya Mayuyu punya banyak jepit rambut, ya?” tanya bocah gingsul berjidat lebar itu. Hikaru.
“Me-memang. Jepit rambut milikku banyak. Ta-tapi itu yang paling aku su-suka,” jaawab Mayuyu sambil mengusap matanya.
“Ooh, begitu. Kenapa tidak dicari?” tanya Hika.
“Sudah. Ta-tapi, tidak ketemu,” jawab Mayuyu.
“Bagaimana kalau ku bantu?” tawar Hika.
Mayuyu menatapnya dengan sorot mata yang mengatakan ‘benarkkah?’. Lalu, setellah hika menganggukkan kepalanya. Mayuyu segera berdiri sambil mengusapa matanya.
“Ayo kita cari,”
***
“Senja yang indah,” ucap Mayuyu.
“Aah, Hika ingat tidak saat itu? Saat kiat mencari jepit rambutku yang hilang?” tanya Mayuyu sambil menggengam tangan Hika.
“Saat itu senja sungguh indah. Sayang, Oniichan Kei dan Oneechan Haruna sudah datang. Wajahnya menggerikan sekali saat itu,” kata Mayuyu sambil terssenyum. Airmata perlahan turun di pipinya tanpa permisi.
***
“Hikachan, kau sudah menemukannya?” tanya Mayuyu sambil mendekati Hikaru.
“Belum. Sepertinya kita tak bisa mencarinya lagi sekarang,” kata Hikaru
“Eeh, kenapa?” tanya Mayuyu
“Karena hari sudah gelap,” kata Hikaru sambil mengacak rambut Mayuyu.
“Hei, Mayuyu,”
“Ya?”
“Lihat, langitnya indah sekali,” ujar Hikaru sembari menunjuk langit keemasan senja.
“Iya. indah sekali,” ucap Mayuyu.
Lalu, hening. Mereka berdua terpaku menatap langit senja. Tapi, semua itu sungguh sebentar. Sebentar sekali.karena setelah itu kakak-kakak mereka datang.
“HIKAA!!! MAYUYU!!! CEPAT PULANG!!” teriak kedua anak yang lelaki dan perempuan yang lebih besar.
“KALIAN MEMBUAT UANG JAJAN KAMI TERPOTONG!!” mereka berteriak lagi.
Keii, oniichan Hikaru langsung menuju ke adiknya. Menjewer telingga adiknya.
“Ittai !!! Oniichan, ittai !! Aduh, aw, sudah Oniichan,” kata Hikaru saambil meringis kesakitan.
“Oneechan !!! Ittai !! Hiks. .hiks. .!!” teriak suara lain. Kali ini Mayuyu.
Di senja yang sempurna itu. Dua anak manusia yang sedang memandang langit senja. Akhirnya pulang di tarik oleh kakaknya masing-masing.
***
“Aku ingat rasanya sakit sekali. Bagaimana denganmu?” tanya Mayuyu sambil merajut sebuah syal.
“Pasti sakit sekali. Terlalu terlihat dari wajahmu. Oniichan Keii galak, ya?” tanya Mayuyu lagi.
“Aah, aku yakin seklai itu Karena Oniichan sayang sekali padamu,” kata gadis itu.
“Ooh, sudah jam segini. Aku pergi dulu ya? Aku mau bekerja dulu. Nanti aku akan kembali kesini. Cepatlah bangun,” kata gadis itu sambil bangkit. Lalu,
CUP !
Sebuah ciuman kecil mendarat di dahi lebar milik Hikaru. Sebuah ciuman yang akan menggubah segalanya.
~ tsuzuku ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar