Title : wake up , hika (part2)
Author : higayasei
Rating : Other
Type : Multichapter
Genre : Romance
Chara :Yaotome Hikaru X Watanabe Mayu
Disclaimer : saya punya semuanya . termasuk hikaru . #di geplak fans-fansnya.
A/N : ini pertama kalinya saya bikin ff , jadi maaf kalo gak sempurna.
Hikaru berlari terengah-engah. Seandaainya bisa, sebelum terlambat dia ingin bertemu Mayuyu. Seandainya. Tapi dia tahu, mungkin semuanya telah terlambat. Kemarin, Hikaru telah berjanji pada Mayu akan datang ke temapt ini. Di taman kenangan mereka.
Dengan nafas putus-putus. Hikaru sampai di taman. Tak ada siapa-siapa disana. Tak ada Mayu yang menunggunya disana. Hanya sebuah boneka yang tersandar di bawah phon. Sebuah boneka milik Mayu. Yang berada di baawah pohon milik mereka berdua. Hikaru tau, dia terlambat.hikaru memperhatikan sekitar. Mungkin saja ini permainan Mayuyu, pikir Hikaru. Tak ada. nihil. Hikaru bahkan sudah memeriksa rumah pohon mereka. Dia lelah, dia ingin pulang. Istirahat. Tapi, dia tak bisa lagi melangkah. Sungguh, kakinya terasa lemas.
Kini, pandangan matanya tertuju pada boneka kelinci kecil itu. Boneka yang tadi dilihatnya ada disana saat pertama kali datang. Boneka kesayangan Mayuyu. Sekarang boneka itu terduduk rapi di bawah pohon milik Hikaru dan Mayuyu. Hikaru mengambil boneka itu dan memeluknya. Ia terisak pelan, “Aku janji. Aku akan selalu menjaga ini Mayuyu,”
***
Hikaru berayun-ayun. Di bawah pohon mereka. Pandangan matanya jauh menerawang. Dilihatnya bayangan dirinya dan mayuyu. Yang asyik bercengkrama. Tanpa tau apa yang akan terjadi setelahnya. Bayangan itu terus menari-nari di pelupuk matanya.
“Hika, kamu suka langit, kan? Menurutmu, warna apa yang paling indah?” tanya Mayuyu.
“Hm, mungkin warna oranye dan merah. Saat seja menjelang,” ujar Hikaru sambil membayangkan.
“Umm. . . baiklah,”
“Kalau Mayuyu, suka bunga apa?” tanya Hikaru.
“Bunga Matahari!!” jawab Mayuyu semangat.
“Aah, iya,”
Hikaru dan Mayuyu sedang melukis. Di bawah rumah pohon mereka. Di taman bunga mereka. Menghabiskan waktu pagi itu berdua.
Tiba-tiba tanpa diketahui Mayuyu, Hikaru ssengaja mengenai cat di pipinya.
“Eh?” ujar Mayuyu sembari mengusap cat di pipinya. Mayuyu tersenyum. Lalu, ganti mencipratkan cat pada wajah Hikaru.
Hikaru tertegun. Sedikit mengulas senyum. Hikaru membalasnya. Sengaja mencoret lagi di dagu Mayuyu. Mereka tertawa. Lepas.
***
Untuk kesekian kalinya Mayuyu mendesah. Matanya menerawang. Matanya sayu. Bayangan dirinya kembali menari di pelupuk matanya.
“Haha.. kau lucu sekali,” kata Hikaru sembari tersenyum. Dengan cepat ia beranjak.
“Huh, kau ini! Awas kau ya!!” kata Mayuyu sembari beranjak mengikuti Hikaru.
Mereka berkejaran. Membawa kuas mereka di masing-masing tangan. Di tengah-tengah keasyikan bermain saling kejar mengejar itu, air hujan turun daru langit membasahi tubuh mereka. Mereka berpandangan. Tersenyum.
Mereka terus berlari berkejaran. Tak peduli bahwa kini hujan sudah begitu deras. Tak peduli lumpur. Tak peduli jika nanti mereka sakit. tapi, semuanya terhenti ketika kilat menyambar. Mayuyu yang berada di depan Hikaru berhenti berlari.
“JEEDDEERR!!” suara gemuruh petir terdengar setelat kilat menyambar.
“KYAA!!” teriak Mayuyu. Mayuyu terjatuh. Sambil menutup telinga.
Hikaru yang melihat kejadian itu langsung berlari. Dia tahu Mayuyu benci suara petir. Entah kenapa dia pun tak tau. Hikaru pun refleks merengkuh Mayuyu dalam pelukannya. Memeluk erat Mayuyu.
“JEEDDEERR!!” suara petir menyambar lagi.
Kali ini Mayuyu sudah menangis. Sungguh, dia takut. Takut sekali. Walau, kini sudah ada yang melindunginya tapi, dia masih takut.
“Mayuchan, kita masuk saja yuk,” ajak Hiakru.
Mayuyu hanya mengangguk. Mengikuti Hikaru yang menuntunnya. Yang tidak melepaskan pelukannya.
“Masuk saja ya. biar tidak dingin,” ujar Hikaru.
Lagi-lagi mayuyu hanya mengangguk. Rasa terkejut dan takutnya belum hilang. Tapi, kini lama-lama terganti menjadi sebuah rasa aman. Karena ada dia disini. Karena ada Hikaru disini.
***
Semua yang ada disitu terdiam mendengarkan kisah masa kecil Mayuyu.
“Seperti dongeng,” ucap seseorang. Kojima Haruna.
“Tapi, sayangnya ini bukan sebuah dongeng. Bukan sebuah cerita yang kubuat. Semua ini sungguh nyata,” ucap Mayuyu. Pandangan matanya menerawang.
“ Iya, aku tau. Mayuchan, aku ingin tahu seperti apa Hikaru-kun itu,” ucap A-chan.
“Dia baik. Dia perhatian… -“ belum selesai Mayuyu berbicara pintu ruangan itu terbuka.
Seorang gadis remaja berkepang berdiri disana. Dan juga seorang pria tinnggi berkacamata di samping gadis itu. Semua diam. Tak ada yang bersuara. Hanya pandangan bertanya.
“Oneechan Mayu, ada?” tanya gadis tadi.
“Aku. Kalian mencari aku?” tanya Mayuyu. Dia gugup.
Mayu kau ingat? Itu oniichan keii. Dan itu sei, adikku.
***
Suasana di kafe itu sungguh tenang dan meyenangkan. Tapi, tidak di meja pojok sana. Sedang duduk seorang lelaki berkacamata. Di depannya duduk seorang perempuan berumur sekitar tujuh belas tahun. Di hadapannya ada seorang gadis remaja berkepang.
“Benarkah?” tanya perempuan tadi sambil mengusap ujung matanya.
“Sungguh. Sekarang Hika-niichan sedang koma. Sudah dua minggu ini dia tak sadarkan diri,” jelas gadis berkepang itu, Seira.
“Oneechan. Oneechan tahu tidak? Hika oniichan sedang dimana?” tanya Sei sambil tersenyum penuh misteri.
“Di Rumah Sakit kurasa,” jawab Mayuyu asal.
“Aah, Sei. Memangnya hika sekarang dimana?” tanya lelaki berkacamata itu, keiichiro. Dia tahu adiknya ini istimewa.
“Oniichan sedang ada disitu. Itu di samping Oneechan,” jawab Sei sambil menunjuk bangku di samping Mayuyu.
Sei, jangan begitu. Nanti Mayuyu takut. Nanti dia pergi. Oniichan minta kau bilang padanya ya. tentang yang kemarin itu, kataku.
Adikku ini bisa melihatku. Akupun hanya bisa berbicara padanya. Kalian sudah tahu, kan? Kalau seharusnya aku berbaring di Rumah Sakit. Ya, aku –arwahku- sedang berjalan-jalan. Mencari Mayuyu.
“Oneechan, oniichan bilang dia ingin menagih janji,” kata Sei.
“Eeh, janji apa?” kening Mayuyu berkerut heran.
“Oniichan minta kue,”
~ tsuzuku ~
Tidak ada komentar:
Posting Komentar